Dengan Segelas Kopi

14.11.11

Sebuah Kata Pengantar...

Mungkin gak banyak yang mau baca kata pengantar. Karena pasti isinya bakalan ngebosenin dan begitu-gitu aja.. Palingan cuma ucapan terima kasih kepada siapaaaa gitu, dan yang bikin males lagi dalam membaca kata pengantar adalah apabila kita gak menemukan ada nama kita diantara nama-nama yang ditulis didalemnya.

Gw jadi inget seseorang berambut kribo yang biasa dikenal dengan sebutan Wiemar Witular (mungkin beliau ada kebrabatan sama Tutur Tinular), beliau pernah berujar, "Sebenernya semua yang penting harusnya bisa lebih jelas kalau dikonversikan dalam bentuk cerita".. Kayak misalnya orang lagi diwawancara kerja. Pewawancara pasti bakalan lebih suka apabila kita bercerita secara langsung mengenai diri kita ketimbang hanya kita sodorkan selembar atau dua lembar curiculum vitae kita dan membiarkan beliau membacanya sendiri.

Tapi gw gak pengen bercerita tentang wawancara kerja, soalnya pengalaman wawancara kerja gw kebanyakan begitu menyakitkan untuk diungkapkan.. Jadi, gw cuma ingin berbagi tentang apa bikin gw pengen menulis.

Semua dimulai dari satu kebencian..

Sewaktu masih sekolah, gw paling benci sama yang namanya pelajaran sejarah.

Kalo mencari di buku kamus bahasa Indonesia yang baik dan benar, sejarah bisa diartikan sebagai berikut..

Sejarah : se.ja.rah, [n] (1) asal-usul (keturunan) silsilah; (2) kejadian dan peristiwa yg benar-benar terjadi pd masa lampau; riwayat; tambo: cerita --; (3)pengetahuan atau uraian tentang peristiwa dan kejadian yg benar-benar terjadi dl masa lampau; (4)salah satu cabang ilmu

Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/sejarah#ixzz1cWfGW9c8

Sejarah adalah pelajaran yang paling susah buat gw, manusia yang otaknya berkecepatan pentium seperempat (itu juga masih bisa ditawar). Ngebayangin begitu banyak nama, begitu banyak tanggal, begitu banyak peristiwa yang harus gw apal pasti bikin otak gw kram.

Tapi, semua keputus-asaan gw tentang sejarah seketika berubah sewaktu menginjak kelas 2 SMA. Seorang guru sejarah yang sekaligus merangkap sebagai wali kelas gw waktu itu, Bu Yuni, membawakan sebuah pola pikir baru tentang pelajaran "sejarah". Kecerdasan beliau saat membawakan pelajaran sejarah, yang pada dasarnya adalah pelajaran yang membosankan, berhasil membuat gw justru jatuh hati sama pelajaran ini.

Menurut Bu Yuni, sejarah bukan hal yang mutlak harus mengingat tanggal, karena banyak orang yang sudah mencatatkan tanggal-tanggal tersebut dalam berbagai media, kalo kita butuh mencari tahu tentang tanggal terjadinya suatu peristiwa, kita tinggal buka buku kalo gak search-ing di-google. Sejarah juga bukan mutlak harus mengetahui dengan pasti siapa tokoh yang melatarbelakangi terjadinya suatu peristiwa, tapi harusnya kita bisa paham bagaimana cara mengambil pesan penting dari terjadinya peristiwa tersebut.

Semenjak itu, gw mulai berteman dengan sejarah. Dan, sejarah yang paling dekat dengan hidup gw adalah cerita tentang diri gw sendiri. Dan semenjak itu juga gw mulai menulis. Karena gw frustasi begitu mengetahui bahwa hidup gw ini gak terlalu penting untuk dituliskan dalam "sejarah" perjuangan bangsa, jadi, gw tulis sendiri sejarah hidup gw.

Tapi masalahnya adalah, gak ada hal penting yang bisa gw ceritain tentang hidup gw... Tapi, gw coba untuk mengutip perkatan seorang ahli ilmu komunikasi yang gak bisa gw sebut namanya, karena emang gw gak tau siapa namanya, dan pernyataan beliau sungguh menyemangati gw untuk tetep menulis..

Kira-kira begini bunyinya,"Ada begitu banyak cerita, macam-macam, ada yang seru ada yang tidak, tapi sebenernya kekuatan sebuah cerita adalah apabila cerita tersebut bisa menyampaikan sebuah "pesan"". Beliau juga menambahkan, "Cerita itu kuat kalau mengandung "ke-benar-an", bukan "ke-bener-an" dibikin benar". Gimana? Super sekali kan? Saya yakin tidak..

Harapan gw cuma satu, bakalan banyak orang yang mempercayai pesan dalam cerita gw. Walau gw sadar bener tata bahasanya amburadul, isi ceritanya kadang kala gak jelas, walau gak banyak mengandung makna, semoga gak mengurungkan niat untuk kembali membaca disini, karena membaca dapat mencerdaskan bangsa dan menambah ilmu pengetahuan sehingga kita semakin cerdas dan menjadi manusia yang berkualitas.. Hadeeeggghh makin gak jelas gini..

Akhiru kalam aja deh.. Mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan dihati para hadirin sekalian..

Wassalamualaikum wr. wb.





Yang Berbahagia,
Nino...

0 komentar:

Post a Comment